Hikmah Masa Kecil Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam: balita baiknya diasuh di lingkungan pedesaan? (Kuliah Sesi 2 – Akademi Siroh 2017)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam diasuh oleh Bani Sa’ad saat umurnya 7 hari hingga umurnya 4/5 tahun. Bani Sa’ad itu tinggal di pedesaan dan bukanlah kota. Akhirnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pada saat kecilnya mempunyai badan dengan otot-otoo yang kuat dan berbahasa yang bagus. Apakah memang sebaiknya kita mengasuh anak balita kita di pedesaan?

Kuliah Siroh Nabawiyah – Akademi Siroh 2017 – Sesi 2: Sejak Kelahiran Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam Sampai Sebelum Masa Kenabian

Oleh Ustadz Ali Shodiqin, Lc.

Ada 2 (dua) kejadian penting sebelum kelahiran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam:

  1. Penemuan sumur Zamzam
  2. Pasukan bergajah

Penemuan sumur Zamzam

Sumur Zamzam dikubur oleh suku Jurhum (suku yang menetap di Makkah tapi berasal dari Yaman, bagian selatan Makkah). Yang pada saat itu suku Jurhum kalah oleh suku Khudza’ah yang merupakan suku keturunan dari nabi Ismail ‘Alaihis sallam.

Kemudian di masa kakeknya Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, Abdul Muththalib, beliau bermimpi 3 (tiga) kali bahwa beliau disuruh menggali sumur Zamzam dan mencari tempatnya.

Penggalian dibantu oleh Al Harits bin Abdul Muththalib.

Dan ada nadzar yang Abdul Muththalib ucapkan karena didesak oleh suku QUraisy yang ingin ikut campur tangan menanganinya.

Nadzarnya adalah jika Abdul Muththalib mempunyai 10 orang anak laki-laki dan nanti sudah besar, maka dia akan mengorbankan (menyembelih) salah satu di antara mereka di depan Ka’bah.

Saat waktunya tiba, Abdullah, ayah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, adalah anak Abdul Muththalib yang mendapat undian untuk disembelih sesuai nadzar.

Kemudian ditemuilah dukun perempuan, dan dukun tersebut memerintahkan mengundi Abdullah dengan sepuluh ekor unta. Jika yang keluar nama Abdullah, maka dia harus menambah lagi dengan sepuluh ekor unta. Begitulah hingga jumlah untanya ada 100 ekor. Dan 100 ekor unta tersebutlah yang disembelih.

Pasukan Bergajah

Abrahah Ash-Shabbah Al-Habsi, Gubernur yang berkuasa di Yaman dari Najasy (Habasyah), membangun sebuah gereja yang sangat besar di Shan’a (Yaman), beliau beragama Nasrani. Dengan adanya gereja yang sangat besar itu dia menginginkan untuk mengalihkan pusat kegiatan haji di sana.

Seseorang dari Bani Kinanah mendengar niat tersebut dan selagi tengah malam mengendap-endap masuk ke gereja tersebut dan melumurkan kotoran ke pusat kiblatnya.

Hal tersebut membuat Abrahah murka dan membawa pasukan gajah untuk menghancurkan Ka’bah.

Tapi sebenarnya Abrahah punya niat tersembunyi di balik penyerangan tersebut, seperti yang diungkap Allah subhana wa ta ‘ala dalam surat Al Fiil ayat 2 “alam yaj’al kayda hum fii tadhliill”.

  • Kayda ~ kaydum ~ tipu daya tersembunyi di hari seseorang ~ niat terselubung di hati Abrahah untuk menguasai Makkah

Hikmahnya adalah kejadian penghancuran tentara gajah oleh Allah subhana wa ta ‘ala adalah untuk melindungi ibu Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, agar dapat melahirkan dengan selamat dan rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menjadi orang yang bebas.

Padahal orang Makkah pada saat itu adalah orang-orang musyrik dan orang-orang Yaman (Abrahah) adalah orang-orang Nasrani, yang secara hubungan kepada Allah harusnya lebih dekat orang Nasrani kepada Allah. Namun Allah mempunyai kehendak lain dengan menghancurkan tentara gajah tersebut.

Cerita Kelahiran Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam

Bapaknya adalah Abdullah bin Abdul Muththalib. Keturunan pemimpin Makkah yang bertugas untuk mengurusi air minum untuk jamaah haji.

Ibunya adalah Aminah binti Wahb bin Abdi Manaf bin Zuhrah bin Kilab. Saat itu Aminah dianggap wanita paling terpandang di kalangan QUraisy dari segi keturunan maupu kedudukannya. Bapaknya adalah pemuka Bani Zuhrah.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam lahir di tengah keluarga Bani Hasyim di Makkah pada Senin pagi, tanggal 9 Rabi’ul Awwal permulaan tahun dari peristiwa gajah.

Ibnu Sa’d meriwayatkan bahwa ibu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata “Setelah bayiku keluar, aku melihat ada cahaya keluar dari kemaluanku, menyinari istana-istana di Syam”. Hadistnya shahih.

Hikmah dari pernyataan ibu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah bahwa negeri Syam (catatan penulis: yang sekarang terdiri dari Negara Palestina, Jordania, Syria, dan Libanon) akan Islam hingga akhir jaman.

Kemudian Abdul Muththalib, dengan perasaan suka cita lalu membawa beliau ke dalam Ka’bah, seraya berdoa kepada Allah dan bersyukur kepada-NYA, memilih nama Muhammad bagi beliau. Artinya Muhammad adalah terpuji.

Kronologis kehidupan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam hingga sebelum diberi wahyu oleh Allah

Wanita yang pertama kali menyusui beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah ibunya, Halimah binti Wahb.

(catatan penulis: 1-7 hari disusui oleh Ibunya, diceritakan oleh Ustadz Ardan di Sesi 5 Kuliah Akademi Siroh per tanggal 25 Februari 2017)

Kemudian disusui oleh Tsuwaibah, hamba sahayanya Abu Lahab (catatan penulis: Paman Nabi yang kemudian adalah salah satu penentang utama ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi shalallau ‘alaihi wa sallam).

Kemudian hingga umur 2 tahun disusui oleh wanita dari Bani Sa’ad, Halimah binti Abu Dzu’aib.

Halimah punya karakter penyabar, penyantun dan lemah lembut.

Arti kata Sa’ad adalah kebahagiaan.

Tradisi yang berjalan di kalangan Bangsa Arab yang relatif sudah maju, mereka mencari wanita-wanita yang bisa menyusui anak-anaknya. Sebagai langkah untuk menjauhkan anak-anak itu dari penyaki yang bisa menjalar di daerah yang sudah maju, agar tubuh bayi menjadi kuat, otot-ototnya kekar dan agar keluarga yang menyusui bisa melatih bahasa Arab dengan fasih. [“Sirah Nabawiyah” karya Syaikh Syafiyyurrahman al-Mubarakfuri penerbit Pustaka Al Kautsar cetakan keempat puluh satu, Oktober 2014 = [1]]

Orang Arab di jaman itu terdiri dari 2 jenis:

  1. Al A’rob (badui) : tinggal di  pinggiran, nomaden, tendanya dari kulit
  2. Al ‘Arob (desa/kota) : rumahnya permanen

Hikmah anak-anak dititipasuhkan di Al A’rob adalah:

  1. Terhindar dari penyakit, Makkah banyak orang yang memungkinkan penyakit dapat dengan mudah menular dari satu rumah ke rumah lain
  2. Bahasanya bagus, sehingga anak-anak dapat berbicara dengan baik kalau sudah besar
  3. mempunyai alam yang luas (catatan penulis: sehingga jarak pandang anak-anak bisa luas pula dan meluaskan hati pula)
  4. Anak-anak belajar untuk menggembala kambing kecil

Dan banyak berkah yang dirasakan keluarga Halimah tersebut saat menyusui Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam:

  • Air susu Halimah melimpah ruah
  • Onta tua milik keluarganya mengeluarkan susu, padahal sebelumnya tidak
  • Keledai tunggangannya menjadi kuat dan perkasa, padahal sebelumnya lemah
  • Domba-domba di rumahnya pun mengeluarkan air susu, padahal sebelumnya tidak sama sekali

Sehingga Halimah meminta ijin kepada Aminah agar Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam tetap di tengah keluarga Halimah meskipun sudah tidak disusui lagi sejak umur 2 tahun.

(catatan penulis: Keluarga Halimah bini Abu Dzu’aib adalah keluarga yang paling baik dalam mendidik anak di lingkungannya. Dan Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam kecil diasuh di sana sehingga menjadi anak yang otot-otot badannya kuat dan berbahasa yang lancar. Diceritakan oleh Ustadz Ardan di Sesi 5 Kuliah Akademi Siroh per tanggal 25 Februari 2017)

Umur 4 tahun, Muslim meriwayatkan dari Anas, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam didatangi Jibril, yang saat itu beliau sedang bermain-main dengan beberapa anak kecil lainnya. Jibril memegang beliau dan menelentangkannya, lalu membelah dada dan mengeluarkan hati beliau dan mengeluarkan segumpal darah dari dada beliau, seraya berkata.  “Ini adalah bagian setan yang ada pada dirimu” Lalu Jibril mencucinya di sebuah baskom dari emas dengan menggunakan air Zamzam, kemudian menata dan memasukkan ke tempat semula. Anak-anak kecil lainnya berlarian mencari ibu susunya dan berkata. “Muhammad telah dibunuh!” Mereka pun datang menghampiri beliau yang wajah beliau semakin berseri. [“Sirah Nabawiyah” karya Syaikh Syafiyyurrahman al-Mubarakfuri penerbit Pustaka Al Kautsar cetakan keempat puluh satu, Oktober 2014 = [1]]

4- 6 tahun, diasuh oleh Ibunda tercinta hingga saatnya Aminah binti Wahb meninggal di kota Abwa’ yang terletak di antara kota Makkah dan Madinah, saat mereka pulang dari mengunjungi kuburan suaminya di Madinah (Yastrib).

7-8 tahun, diasuh oleh kakeknya Abdul Muththalib yang hatinya bergetar oleh perasaan kasih sayang (terhadap Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam *catatan penulis*), yang tidak pernah dirasakannya sekalipun terhadap anak-anaknya sendiri [1]

Ibnu Hasyim berkata, “Ada sebuah dipan yang diletakkan di dekat Ka’bah untuk Abdul Muththalib. Kerabat-kerabatnya biasa duduk di sekeliling dipan itu hingga Abdul Muththalib keluar dari sana, dan tak seorang pun di antara mereka yang berani duduk di dipan itu, sebagai penghormatan terhadap dirinya. Suatu kali selagi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menjadi anak kecil yang montok, beliau duduk di atas dipan itu. Paman-paman beliau langsung memegang dan menahan agar tidak duduk di dipan itu. Tatkala Abdul Muththalib melihat kejadian ini, dia berkata, “Biarkanlah anakku ini. Demi Allah, sesungguhnya dia akan memiliki kedudukan yang agung.” Kemudian Abdul Muththalib duduk bersama beliau di atas dipannya, sambil mengelus punggung beliau dan senantiasa merasa gembira terhadap apa pun yang beliau lakukan”

8 tahun, Abdul Muththalib meninggal dan Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam diurus oleh Abu Thalib.

Abu Thaib itu, walaupun beliau adalah pemimpin Quraish, adalah orang yang miskin dan beranak banyak. Dan ditambah lagi beliau mengurus Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah yang menjadi masa persiapan Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk beliau agar menjadi kuat.

Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dekat dengan Fatimah binti Assad, istri Abu Thalib.

12 tahun, Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam diajak berdagang oleh Abu Thalib ke Syam. Dan saat tiba di Bushra (daerah yang sudah termasuk bagian dari Syam), ada Rahib / Pendeta yang dikenal dengan sebutan Bahira (yang nama aslinya adalah Jurjis)

(catatan penulis: Daerah Syam pada saat itu di bawah kekuasaan Romawi)

Tatkala rombongan singgah di daerah ini, maka sang rahib menghampiri mereka dan mempersilakan mereka mampir ke tempat tinggalnya sebagai tamu kehormatan. Padahal sebelum itu rahib tersebut tidak pernah keluar, namun begitu dia bisa mengetahui Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dari sifat-sifat beliau.

Sambil memegang tangan beliau, sang rahib berkata, “Orang ini adalah pemimpin semesta alam. Anak ini akan diutus Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam”

Abu Thalib bertanya, “Dari mana engkau tahu hal itu?”

Rahib Bahira menjawab, “Sebenarnya sejak kalian tiba di Aqabah, tak ada bebatuan dan pepohonan pun melainkan mereka tunduk bersujud. Mereka tidak sujud melainkan kepada seorang nabi. Aku bisa mengetahui dari stempel nubuwah yang berada di bagian bawah tulang rawan bahunya, yang menyerupai buah apel. Kami juga bisa mendapatkan tanda itu di dalam kitab kami”

Kemudian Rahib Bahira meminta agar Abu Thalib kembali lagi bersama beliau tanpa melanjutkan perjalanannya ke Syam, karena dia takut gangguan dari pihak-pihak Yahudi.

Maka Abu Thalib mengirim beliau bersama beberapa pemuda agar kembali lagi ke Makkah. [1]

Masa masa umur ini pulalah, Muhammad shalallahu alaihi wa sallam sudah mulai menggembala kambing untuk mendapatkan upah dari jasanya tersebut.

15 tahun, Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam ikut membantu dalam perang Fijar. Dengan cara mengumpulkan anak-anak panah bagi paman-paman beliau untuk dilemparkan kembali ke pihak musuh.

Perang Fijar adalah perang antara pihak Quraisy bersama Kinanah menghadapi Qais Ailan.

Dinamakan perang Fijar karena terjadi pelanggaran tanah haram dan bulan-bulan suci.

20 tahun, Hilful Fudhul. Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku pernah mengikuti perjanjian yang dikukuhkan di rumah Abdullah bin Jud’an ,suatu perjanjian yang lebih disukai daripada keledai yang terbagus. Andaikata aku dundang untuk perjanjian itu semasa Islam, tentu aku akan memenuhinya”

Perjanjian ini terjadi karena ada pedagang dari Zubaid yang datang ke Makkah dan kemudian barangnya dagangannya dibeli Al-Ash bin Wa’il As-Sahmi dan kemudian Al-Ash bin Wa’il As-sahmi tersebut tidak memenuhi hak-hak pembeli dan sang penjual mengabarkan tentang kedzaliman Al-Ash dan orang-orang berkumpul di Hilful Fudhul untuk memprotes pelanggaran tersebut. [1]

25 tahun, Pada umur ini beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam pergi berdagang ke Syam menjalankan barang dagang milik Khadijah binti Khuwailid, seorang wanita pedagang, terpandang dan kaya raya. Khadijah biasa menyuruh orang-orang menjalankan barang dagangannya, dengan membagi sebagian hasilnya kepada mereka. Muhammad berangkat ke Syam bersama seorang pembantu Khadijah bernama Maisarah (laki-laki).

Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam pulang ke Makkah dengan keuntungan yang melimpah. Dan Maisarah menggambarkan apa yang dilihatnya pada diri Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam selama menyertainya, bagaimana sifat-sifat beliau yang mulia, kecerdikan dan kejujuran beliau.

Dan dua bulan setelahnya Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam menikah dengan Khadijah. Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam berumur 25 tahun dan Khadijah binti Khuwailid berumur 40 tahun.

35 tahun, Beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam ikut dalam memberikan solusi terhadap masalah yang terjadi saat renovasi Ka’bah.

Al-Walid bin Al-Mughirah Al-Makhzumi mengawali perobohan bangunan Ka’bah, lalu diikuti semua orang, setelah tahu tidak ada sesuatu pun yang menimpa Al-Walid.

Mereka membagi sudut-sudut Ka’bah dan mengkhususkan setiap kabilah dengan bagiannya sendiri-sendiri.

Tatkala pembangunan sudah sampai di bagian Hajar Aswad, mereka berselisih tentang siapa yang berhak mendapat kehormatan meletakkan Hajar Aswad di tempatnya semula. Bahkan perselisihan itu semakin meruncing dan hampir saja menjurus kepada pertumpahan darah di tanah suci.

Abu Umayyah bin Al-Mughirah Al-Makhzumi tampil dan menawarkan jalan keluar dari perselisihan di antara mereka, dengan menyerahkan urusan ini kepada siapa pun yang pertama kali masuk lewat pintu masjid. Mereka menerima cara ini.

Allah menghendaki orang yang berhak tesebut adalah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.Tatkala mengetahui hal ini, mereka berbisik-bisik, “Inilah Al-Amin. Kami ridha kepadanya. Kami ridha kepadanya. Inilah dia Muhammad”

Setelah mereka semua berkumpul di sekitar beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan apa yang harus beliau lakukan, maka beliau meminta sehelai selendang lalu beliau meletakkan Hajar Aswad tepat di tengah-tengah selendang, lalu meminta pemuka-pemuka kabilah yang saling berselisih untuk memegang ujung-ujung seledang, lalu memerintahkan mereka secara bersama-sama mengangkatnya. Setelah mendekati tempatnya, beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam mengambil Hajar Aswad dan meletakkannya di tempat semula. Ini merupakan cara pemecahan yang sangat jitu dan diridhai semua orang.[1]

38,39,40 tahun, Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam sangat suka menyendiri dan menjauh dari hiruk pikik kota. Satu bulan penuh dalam satu tahun. Dan puncaknya itu adalah di Gua Hira saat umurnya 40 tahun dan malaikat Jibril diutus oleh Allah untuk memberi wahyu pertama.

Pilihan beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengasingkan diri ini termasuk satu sisi dari ketentuan Allah atas diri beliau, selagi langkah persiapan untuk menerima utusan besar sedang ditunggunya. Ruh manusia mana pun yang realitas kehidupannya akan disusupi suatu pengaruh dan dibawa ke arah lain, maka ruh itu harus dibuat kosong dan mengasingkan diri untuk beberapa saat, dipisahkan dari berbagai kesibukan duniawi dan gejolak kehidupan serta kebisingan manusia yang membuatnya sibuk pada urusan kehidupan. [1]

(catatan penulis: Ustadz Ardan dalam pertemuan sesi 5 [DARI THAIF MENUJU BAI’AH AQOBAH KUBRA] Akademi Siroh tanggal 25 Februari 2017 menyatakan bahwa hikmah dari menyendirinya beliau sebelum mendapat wahyu dapat diartikan bahwa semakin seorang manusia itu menyendiri dalam ibadahnya, maka dia akan semakin menuju ke kesempurnaan spiritual)

Referensi

[1] “Sirah Nabawiyah” karya Syaikh Syafiyyurrahman al-Mubarakfuri penerbit Pustaka Al Kautsar cetakan keempat puluh satu, Oktober 2014

Gambar Fitur diambil dari http://www.fiqhmenjawab.net/2016/03/2881/

Iklan

Ditulis oleh

Seorang Muslim. Seorang Ibu baru dari satu anak laki-laki (per sekarang :)) Memutuskan untuk memulai blogging sejak 2015 saat saya merasa butuh "bekerja" di samping tugas utama saya sebagai Ibu. Saya pernah bekerja di lingkungan kantoran di perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia selama 6 tahun lebih hingga tahun 2014. Pernah belajar Administrasi Bisnis juga. Dan belajar Teknik Informatika sebelumnya. Sekarang fokus "pekerjaan" saya di luar tugas utama adalah jualan dan manage blog katakanya.id ini.

One thought on “Hikmah Masa Kecil Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam: balita baiknya diasuh di lingkungan pedesaan? (Kuliah Sesi 2 – Akademi Siroh 2017)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s