Apa yang harus kita lakukan sebagai manusia di jaman ini?

Tulisan ini adalah hasil catatan saya dari kuliah perdana Studium Generale dari Akademi Siroh Angkatan 2017 yang diadakan oleh Yayasan Khutab Al Fatih (saya sedikit ragu, apakah namanya Yayasan Khutab Al Fatih atau Yayasan Al Fatih).

Judul asli dari kuliah Stadium Generale yang diadakan tanggal 17 Desember 2016 ini adalah “Al Quran dan Siroh Nabawiyah sebagai Penjaga Peradaban”.

Inti dari pesan yang akan disampaikan oleh kuliah umum tersebut adalah bahwa agar manusia dapat selamat di dunia, tetap dapat hidup bahagia di jaman sekarang dan kemudian menurunkan legacy peradaban yang selamat pula, plus  juga agar dapat selamat di akhirat, maka kita semua harus kembali pada Al Quran dan juga sunnah Nabi yang termaktum dalam Siroh Nabawiyah.

Manusia yang didefinisikan di sini berlaku untuk seluruh umat manusia dan bukan hanya terbatas bagi umat Muslim saja.

Menarik ya!

SESI PERTAMA – SIROH NABAWIYAH SEBAGAI PENJAGA PERADABAN

Definisi Siroh Nabawiyah menurut wikipedia adalah :

Seringkali sirah dimaksudkan sebagai “Sirah Nabawiyah“, menurut istilah syar’i maksud dari as-sirah an-nabawiyah adalah Ilmu yang kompeten yang mengumpulkan apa yang diterima dari fakta-fakta sejarah kehidupan Nabi Muhammad secara komprehensif dari sifat-sifatnya, etika dan moral.

Narasumber di sesi pertama kuliah ini, yakni Ustad Asep Sobari, Lc.  menyebutkan satu buku berjudul “Kerugian Dunia Karena Kemunduran Umat Islam” karya Syeikh Sayid Abul Hasan Ali Al Hasany An Nadwi di awal pembahasan beliau di kuliah ini.

Penulis buku ini adalah seorng India dan ditulis di sekitar tahun 1940-an M sebelum terjadinya Perang Dunia ke-2.

Mengapa Dunia ini bisa mengalami kerugian karena kemunduran Umat Islam? Jawaban sederhananya adalah bahwa umat yang memegang kompas kehidupan di dunia ini adalah Umat Islam, dengan kompasnya adalah Kalamullah, Al Quran.

DIbayangkan bagaimana sebuah amanah yang pernah dahulu ditawarkan kepada langit, bumi, gunung untuk diemban, tapi langit, bumi dan gunung tersebut tidak sanggup untuk memikulnya, dan kemudian amanah itu diemban oleh manusia seperti yang tertera dalam Al Quran surat Al Ahzab ayat 72:

إِنَّا عَرَضْنَا اْلأَمَانَةَ عَلَى السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا اْلإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولاً

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah (yaitu menjalankan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meninggalkan seluruh larangan-Nya) kepada seluruh langit dan bumi serta gunung-gunung. Maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu banyak berbuat dzalim dan amat bodoh. ” (Al-Ahzab: 72)

Kemudian bahasan dilanjutkan kepada contoh-contoh beberapa sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang salih terdahulu tentang bagaimana mereka mengemban misi Islam dan melakukan kesalihan beragama.

  • Abu Ayub Al Anshori – orang yang rumahnya ditinggali oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam saat masa hijrah ke Madinah. Beliau secara periodik pergi ke ujung benteng kota Konstatinopel untuk berusaha menggedor bentengnya. Mengapa beliau melakukan hal itu?
  • 14 sahabat yang bersusah payah membuat kota baru, membangun mercusuar, di kota di Utara Afrika. Apa tujuan mereka melakukan hal tersebut?

Dari beberapa contoh orang-orang salih di atas, ternyata kesalihan beragama itu bukan hanya menjawab pertanyaan “Apakah ibadah yang saya lakukan sudah benardan sesuai tuntunan?”, tapi artinya lebih dari itu.

Mereka percaya bahwa beribadah dalam agama Islam ini bukanlah hanya sekedar beribadah dengan benar (sholat, zakat, puasa), namun ada misi peradaban yang perlu dijunjung.

*Catatan penulis*

Ada misi peradaban untuk membuat kehidupan anak-anak, cucu-cucu dan keturunan setelah kita mempunyai kehidupan yang selamat dan bahagia di dunia dan di akhirat dengan menjalankan perintah Allah Subhana wa a ‘ala dan menjauhi larangan Allah Subhana wa ta ‘ala.

Dan pada akhirnya, amalan kita tersebut akan mengantar kita menuju surga Allah subhana wa ta ‘ala in sya Allah karena itu merupakan amalan jariyah yang menjadi modal di akhirat nanti.

*Catatan penulis selesai*

Pembahasan kembali ke tema yang diangkat dalam buku “Kerugian Dunia karena Kemunduran Umat Islam” yang kemudian menimbulkan pertanyaan “apa contoh konkrit kemunduran dunia karena kemunduran Umat Islam tersebut?”

Ustad Asep Sobari Lc. menjawab bahwa salah satu contoh konkritnya adalah bidang Ekonomi, yang didefinisikan sebagai bidang yang mengatur cara menghasilkan dan mengelola uang.

Contohnya adalah Ali bin Abi Thalib RodhiAllahu Anhu yang mewakafkan hartanya sebanyak 4000 dinar emas (atau sekitar IDR 8 Milyar) walaupun di saat yang sama dia mengikat perutnya dengan batu sebagai penahan lapar.

Atau contoh orang kaya lain di jaman Rasulullah shalalahu ‘alaihi wa sallam yang terkenal adalah Abdurahman bin Auf yang dapat mengatasi masalah ekonomi seluruh kota Madinah dengan kekayaannya.

*Catatan penulis*

Jadi para sahabat-sahabat rodhiAllahu anhu tersebut tetap mengabdikan diri beribadah kepada Allah Subhana wa ta ‘ala dan mencintai Rasulullah shalallahu ‘Alaihi wa sallam, tetap merendahkan dunia ini, namun tetap produktif bekerja sehingga menghasilkan kekayaan material yang banyak.

Bagaimanakah caranya? Bagaimana membagi waktunya? Masya Allah, hal itulah yang penulis juga ingin ketahui sirohnya dan belum diungkap di kuliah ini.

*Catatan penulis selesai*

Di jaman kejayaan Islam itu pun, nilai pajak juga sedikit sekali porsinya.

Dan di kejayaan Islam itu juga, tidak semua masalah ekonomi di dalam masyarakat disolusikan oleh Pemerintah. Terkadang ada tokoh masyarakat atau Orang Kaya di dalam masyarakat tersebut yang mensolusikan sendiri masalah di dalam masyarakatnya.

Nah, Kalau begitu, apakah mungkin kita mengulang kejayaan Islam? Dan dari bidang apa atau dari sisi mana terlebih dahulu, Islam bisa bangkit?

  • Kita telaah sesuai siroh
  • Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam membangun Islam dalam waktu 22 tahun, dan kebesarannya membuat iri Romawi dan Persia
  • Bagaimanakah caranya: perlu lebih detail lagi melihat siroh nabawiyah. Memang Allah subhana wa ta ‘ala lah yang menjamin kebesaran Islam di tangan Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, karena beliau adalah kekasih Allah subhana wa ta ‘ala, namun beliau tetaplah seorang manusia seperti kita yang juga melakukan strategi dan teknik kemanusiaan yang bisa dicontoh.
  • Ada tulisan oleh Imam Al Ghazali yang inti tulisannya adalah jikalau sebuah rakyat rusak, hal itu dikarenakan pemimpin politiknya yang rusak, dan hal itu dikarenakan kurang berfungsinya ulama karena ulamalah yang tahu mana yang baik dan mana yang buruk.
  • Sehingga bisa dikatakan bahwa akar masalahnya adalah orang yang mempunyai ilmu agama –> akar masalahnya adalah pendidikan
  • Apakah mungkin kejayaan Islam terulang? Sangat mungkin, karena
    • posisi kita adalah pengikut Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam
    • kita akan mendekati kejayaan yang dibangun Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam jika kita mengikuti jalan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam

Salah satu contoh kehidupan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang dapat kita ambil hikmahnya adalah:

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam membangun kehidupan berdasarkan Islam selama 13 tahun di Makkah dengan keadaan sebagai berikut:

  1. Pengikutnya relatif sedikit
  2. Modal perjuangan juga tidak lebih besar dari modal kaum Quraish non Muslim
  3. Dan beberapa titik-titik ekonomi di Makkah juga dipegagn oleh kaum Musyrik Quraish

Namun beliau tetap menjadi orang yang disegani oleh kaum Musyrik Quraish, kenapa?

Selain karena ijin Allah subhana wa ta ‘ala, beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah tipe yang beraksi terlebih dahulu, kemudian baru orang Musyrik Quraish yang bereaksi terhadap aksi tersebut.

Setiap aksi beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam membuat kaget kaum Musyrik Quraish.

Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam selalu one step ahead  dan kaum Musyrik Quraish adalah follower-nya.

Pada kesimpulannya, kita semua yang hidup di dunia ini sekarang adalah agent of change. Kita terikat pada sunnatullah, dimana sunnatullah itu menyangkut perubahan, dan perubahan tersebut bersifat kolektif. Walaupun memang ada yang dominan dalam kelompok kolektif tersebut, sifatnya hanya sebagai yang melakukan koordinasi dan juru bicara.

 

SESI KEDUA – AL QURAN SEBAGAI PENJAGA PERADABAN

Dengan mereferensi salah satu buku berjudul “Jahiliyyah Abad 21” oleh Muhammad Quthb, sang narasumber yakni Ustad Herfi Lc. mengatakan bahwa:

  • Jahiliyah adalah kondisi jiwa yang menolak untuk dibimbing oleh Al Quran
  • Jahiliyah bukanlah lawannya modern, karena pada jaman Quraish sebelum kenabian, masyarakat disana sudah bisa menentukan keturunan hanya dari telapak kaki dan tidak perlu tes DNA
  • Jahiliyah bukanlah lawannya ilmu
  • Dan kondisi jahiliyah tersebut bisa diselesaikan sesuai caranya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dahulu

 

Hikmah urutan surah Al Fatihah kemudian surat Al Baqoroh adalah:

  • Di dalam surat Al Fatihah adalah doa kita yang meminta ditunjukkan jalan yang lurus. Ihdinash shirotol mustaqim. Tunjukkilah kami ke jalan yang lurus
  • Kemudian surat Al Baqoroh menjawabnya dengan mengatakan bahwa inilah Al Quran, yang tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Dzalikal kitaabu laa roiba, fiihi hudallilmuttaqin

 

Al Quran adalah :

  • Syifaa – penyembuh – jadi sebelum kita berinteraksi dengan Al Quran, sebenarnya kita sakit. Di dalam Al Quran ada 3 kali kata Syifaa disebutkan, dan 2 dari 3 tersebut ditujukan kepada Al Quran, dan 1 yang lain ditujukan kepada madu.
  • Ruh – memberi makna atas sesuatu

 

Dan di dalam Al Quran:

Q.S Yusuf ayat 2 “Kami turunkan Al Quran dalam bahasa Arab agar kalian berakal”

–> jadi ketika kita tidak melibatkan akal saat membaca Al Quran, kita tidak bisa mengambil petunjuk dari Al Quran tersebut.

–> Manusia terdiri dari 3 hal: jasad, ruh dan akal. Yang masing-masih mempunyai cara ibadah sendiri-sendiri. Jasad dengan sujud, rukuk, tawaf misalnya. Ruh dengan khusyuk, qonaah, ridho misalnya. dan akal dengan berpikir.

–> batasan menggunakan akal dalam membaca Al Quran:

  • Jika menemukan ayat yang tidak kita mengerti, maka banyak-banyak bertanya pada Al Quran, karena Al Quran adalah Al Quran Al karim, yang dermawan, yang akan memberikan jawaban kepada siapapun yang berinteraksi kepadanya
  • Jika belum menemukan jawabannya, maka tetap yakin ada hikmah terhadap ayat tersebut

 

Sudah cukupkah membaca saja dan hanya berharap pahala dari setiap huruf yang dibacanya?

–> Untuk mencapai derajat mulia dan kemuliaan Islam, maka kita perlu membaca dan mengamalkannya

 

Salah satu contoh sahabat yang interaksi dengan Al Quran-nya sedikit (interaksi = membaca) karena beliau adalah panglima perang dan sibuk mengatur strategi, tapi beliau mengamalkan Al Quran dalam melakukan perannya sebagai panglima perang tersebut.

*Catatan penulis*

  • Berarti beliau sudah terlebih dahulu “khatam” tentang ilmu di dalam Al Quran baru kemudian menjadi panglima perang
  • Dan sifat sedikit dari interaksi beliau adalah relatif terhadap umat yang lain di jamannya. Dan berapakahnya sedikitnya itu, ilmu saya masih belum sampai

*Catatan penulis selesai*

 

Dan ini yang menarik, ada 3 jenis kaum yang akan diadukan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada Allah subhana wa ta ‘ala bahwa kaum/umat tersebut mengasingkan Al Quran:

  1. Umat yang tidak membaca Al Quran
  2. Umat yang membaca Al Quran dan tidak mengamalkannya
  3. Umat yang membaca, namun tidak menjadikannya penyembuh, Syifaa

 

Satu hal bersifat keduniawian yang tercantum di dalam Al Quran adalah:

  • ada panduan membangun komplek di Al Quran
  • di surat al Mudatsir
  • komplek tersebut tahan gempa, tahan banjir dan tahan macet
  • dan ini adalah karya ilmiah dari Zain Al Mudawi

 

*Catatan penulis*

Masya Allah! Lebih lengkap dan detail tentang panduan membangun komplek tersebut tidak diterangkan dalam kuliah kemarin. Mungkin akan lebih jelas di Akademi Al Quran tersebut.

*Catatan penulis selesai*

Iklan

Ditulis oleh

Seorang Muslim. Seorang Ibu baru dari satu anak laki-laki (per sekarang :)) Memutuskan untuk memulai blogging sejak 2015 saat saya merasa butuh "bekerja" di samping tugas utama saya sebagai Ibu. Saya pernah bekerja di lingkungan kantoran di perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia selama 6 tahun lebih hingga tahun 2014. Pernah belajar Administrasi Bisnis juga. Dan belajar Teknik Informatika sebelumnya. Sekarang fokus "pekerjaan" saya di luar tugas utama adalah jualan dan manage blog katakanya.id ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s