3 hal yang diperlukan saat (saya) menyapih

Mohon maaf untuk tema postingan yang terlalu niche (plus membosankan bagi teman-teman yang sudah selesai menyapih dengan baik) dan juga bersifat pribadi ini (karena pengalaman menyapih baru satu kali, dan mungkin cerita setiap anak berbeda-beda)

Sebelum menuju ke bagaimana cara menyapih, terlebih dahulu dicari tahu apa yang anak dapatkan saat dia disusui.

Ada 2 hal yang didapat anak saat menyusu langsung pada ibunya:

  1. kebutuhan makan/minum dari air susu ibunya
  2. dan kebutuhan affectionate anak terhadap ibunya. Perasaan nyaman dipeluk dan didekap ibunya.

Dan dari informasi tersebut, maka kemudian didapatlah 3 hal yang diperlukan untuk mempermudah proses menyapih.

Inti dari 3 hal itu adalah mengganti semua kebutuhan anak tersebut dengan hal yang lain. Agar anak tetap dapat nyaman dengan kebutuhan sehari-harinya.

1.Mengganti kebutuhan makan/minum-nya dengan lebih banyak memberikan asupan makanan harian. Plus cemilan. Atau dengan varian susu sapi. Sehingga anak tidak merasa lapar dan tidak perlu meminta ASI.

2. Mengganti rasa nyaman dari menyusui dengan memeluk dan menggendong anak dalam frekuensi yang lebih banyak dalam keseharian sebelumnya. Misalnya si anak sedang meminta ASI kepada Ibu, lakukan analisa singkat: apakah dia lapar? ataukah dia ingin perasaan nyaman saja? Jika dia hanya ingin merasa nyaman layaknya saat menyusui, maka ajaklah bercanda dengan memeluk dan menggendongnya.

Perasaan nyaman saat menyusui juga dapat menjadi pengantar tidur seorang anak. Dan inilah “senjata” seorang Ibu di bulan-bulan sebelumnya agar anaknya dapat tidur pulas.

Dengan adanya kebutuhan untuk disapih, “senjata” ini tidak dapat digunakan lagi dan salah satu cara yang bisa dilakukan adalah:

  • tidak memaksa anak untuk tidur dan lebih memilih untuk menunggu waktu dia benar-benar mengantuk. Untuk anak umur 21 bulan (anak saya), waktu mengantuk adalah 5-7 jam sejak dia bangun di pagi harinya
  • menggendong jalan-jalan (di dalam atau di luar rumah) saat waktu mengantuk tersebut tiba. Bantu dengan dibacakan beberapa surat AL Quran (saya hanya bisa yang pendek-pendek saja, maaf) agar dia terlelap dalam keadaan mendengar kalamullah. Atau kalau mau mengejar keutamaan mengajarkan anak surat Al Fatihah yang akan terus dipakai sepanjang hidupnya, maka ulang terus surat Al Fatihah di saat-saat tersebut

3. Memberikan pengertian tentang berhenti menyusu

Bisa dengan memberikan pengertian di 3 bulan sebelumnya bahwa nanti kalau kamu (menyebutkan nama anak) sudah berumur 24 bulan, 3 bulan lagi, udah nggak menyusu lagi ya, diganti sama susu x atau susu y yaa

Dan pengertian tersebut diucapkan setiap kali anaknya meminta menyusu. Hingga saatnya 3 bulan itu terjadi.

Saat 3 bulan itu terjadi, pengertian yang diberikan kepada anak, bisa menggunakan contoh dibawah:

“Nak, kamu (menyebutkan nama anak) sudah besar, sudah 24 bulan, sudah saatnya tidak menyusu lagi seperti janji kita sebelumnya. Kita minum susu x aja yuk”

“Nak, kamu (menyebutkan nama anak) sudah besar, sudah bisa berjalan dan lari-lari, kalau menyusu itu hanya untuk adik bayi. Adik bayi  belum bisa berjalan dan lari. Kamu (menyebutkan nama anak) masih bayi atau sudah jadi anak? Kalau anak-anak itu sudah tidak menyusu lagi ya. Anak-anak itu minumnya susu x”

Dan semua pengertian itu diberikan dengan usapan dan belaian kasih sayang 🙂

Summarized, mengganti asupan, mengganti rasa nyaman dan memberi pengertian adalah 3 hal yang diperlukan untuk menyapih anak.

 

Di bawah ini adalah beberapa detail berkaitan dengan menyapih anak.

  • kapan waktunya

Di dalam Al Quran, sudah ada aturan jelas tentang lamanya menyusui.

Q.S. Al Baqoroh ayat 233 :

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan …”

Dan ada juga di Q.S. Luqman ayat 14 :

Dan kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu. “

Di Q.S. Ah Ahqof ayat 15 :

Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah(pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, … “

Sangat disarankan untuk menyapih saat usia anak 2 tahun sempurna dan tidak lebih.

Walau diperbolehkan untuk menyapih sebelumnya dengan kesepakatan.

  • menyapih dengan cinta?

Menyapih dengan cinta (weaning with love) adalah menyapih tanpa paksaan. Tidak dengan bantuan balsem, obat merah, garam yang ditaburi di payudara juga jika anaknya meminta menyusu dan bertujuan untuk membuat efek jera menyusu dari situ.

Dan terkadang waktu pemberhentian menyusu itu akan lebih lama dari 2 tahun, berbeda dengan apa yang telah diperintahkan Allah dalam Al Quran, dengan alasan karena anaknya memang belum mau diganti kebutuhan ASI dan affection-nya dengan hal yang lain. Atau anaknya belum mau mengerti tentang penjelasan Ibunya.

Lebihan waktu dari 2 tahun tersebut terkadang diwajarkan di dalam metode menyapih dengan cinta.dikarenakan “menunggu anaknya siap”.

Menurut saya, lebih baik terdapat phase 0 untuk proses menyapih dengan cinta tersebut. Misalnya 1 bulan, 2 bulan atau 3 bulan sebelum waktu 2 tahun tersebut, ada proses pelatihan. Proses pelatihan itu adalah waktu bagi Ibu untuk “melatih” anaknya untuk mengganti kebutuhan ASI-nya dan memberi pengertian kepada anak.

  • bertahap atau langsung?

Alhamdulillah, proses menyapih antara saya dengan Hanif dilakukan secara langsung. Hanif dapat langsung mengerti bahwa mulai hari ini, dia perlu untuk behenti menyusu dari Ibunya.

Tapi mungkin kasus setiap Ibu dan anaknya akan berbeda-beda.

Memang ada waktu 3 bulan sebelumnya bagi saya untuk memulai memberikan pengertian tentang perbedaan anak dan bayi, dan juga perbedaan menyusu dengan meminum susu x atau susu y.

Dimulai dari 3 bulan sebelum hari “H”, di setiap Hanif meminta menyusu, saya berikan pengertian “nanti kalau Hanif sudah berumur 21 bulan (ini kesepakatan saya dan suami saya),  3 bulan lagi, Hanif minum susunya susu x ya, udah nggak menyusu lagi ya“.

Kalimat itu diucapkan di setiap kali menyusu dengan intonasi riang. Alhamdulillah, Hanif pun juga menjawabnya dengan riang dan menyucap “iya”

Dan saat hari “H”nya, saya niatkan untuk melakukan proses menyapih dengan bertahap:

  • Tahap 1: Hanya menyusu saat sebelum tidur dan saat bangun tidur, di pagi hari, siang hari dan malam hari. Di luar itu, menyusunya diganti dengan minum susu sapi + pelukan + pengertian. Timeframe: 1 minggu.
  • Tahap 2: Hanya menyusu saat sebelum tidur dan saat bangun tidur di malam hari saja. Timeframe: 2 minggu.
  • Tahap 3: Tidak menyusu sama sekali.

Namun, ketika di hari pertama, saya coba untuk memberikan pengganti susu + memeluk + memberi pengertian saat momen meminta menyusu, Hanif sudah langsung mengerti dan mengatakan “iya”. Baik di pagi hari, siang hari dan malamnya. Alhamdulillah.

Sehingga pada hari itu juga, saya total menyapih Hanif. Alhamdulillah.

Satu hal yang saya baru mengerti juga tentang ilmu menyapih adalah bahwa proses “pemutusan persusuan ASI” antara Ibu dan Anak adalah proses yang melibatkan dua belah pihak .Antara Ibunya dan Anaknya.

Jadi, secara psikologis, Ibunya pun harus turut serta “melepas” momen bahagia menyusui dengan anaknya. Ibunya perlu memantapkan dan meneguhkan hati bahwa pada hari “H” tersebut, dia juga perlu melepas persusuannya dengan anaknya.

Plus jangan lupa untuk tetap “pumping” yang bertujuan untuk mengeluarkan sisa ASI di dalam payudara agar tidak membengkak dan menyebabkan sakit bagi si Ibu.

Dan lebih baik proses menyapih tidak dilakukan saat anak sakit atau ada momen besar dalam keluarga yang menuntut jadwal keseharian anak mnejadi tidak normal.

Lets celebrate our motherhood moment ya, Mommies!

 

(gambar fitur diambil dari https://mbakinge.wordpress.com/2013/04/24/mengatasi-bayi-batuk-dan-pilek/)

Iklan

Ditulis oleh

Seorang Muslim. Seorang Ibu baru dari satu anak laki-laki (per sekarang :)) Memutuskan untuk memulai blogging sejak 2015 saat saya merasa butuh "bekerja" di samping tugas utama saya sebagai Ibu. Saya pernah bekerja di lingkungan kantoran di perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia selama 6 tahun lebih hingga tahun 2014. Pernah belajar Administrasi Bisnis juga. Dan belajar Teknik Informatika sebelumnya. Sekarang fokus "pekerjaan" saya di luar tugas utama adalah jualan dan manage blog katakanya.id ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s