Apakah kamu orang yang sama saat ada aadc 1 dan aadc 2?

Seiring dengan adanya demam eedisitu (baca: aadc 2) di Indonesia belakangan ini, mau nggak mau saya juga ikutan dalam keriuhan populer ini.

Dan karena saya memilih untuk tidak menonton aadc 2 dengan beberapa alasan prinsipil, akhirnya saya menemukan diri saya tenggelam di kehidupan pribadi para pemain aadc 2 tersebut. Melalui akun instagram mereka masing-masing.

Masuklah saya, secara random, ke akun instagram seorang suami yang salah satu feed-nya mengatakan bahwa beliau sangat mencintai istrinya karena dari dahulu (15 tahun yang lalu) hingga sekarang, istrinya tidak berubah.

Hemm… Saya jadi berpikir tentang diri saya sendiri.

14-15 tahun yang lalu adalah saat saya kelas 2 SMA. Saat saya dahulu nonton AADC 1.

Dan sekarang saya sudah 31 tahun. Sudah mengecap pengalaman kerja. Sudah menikah. Dan sudah memiliki anak. Banyak hal yang sudah dilalui dan dilakukan.

Berubahkah saya sebagai seorang pribadi selama 14 tahun ini?

Definitely Yes!

Untuk saya pribadi, waktu segitu lama dan sebegitu banyak kegiatan yang dilakukan, what a waste, akan sangat terbuang jika nggak dipakai untuk perubahan diri. Berubah menuju orang yang lebih baik tentunya.

Saat SMA dulu, saya orang yang sangat nyebelin, bahkan kalau diingat-ingat, penuh malu rasanya.

Saat SMA dulu, saya orang yang kalau berbicara suka menyakiti hati orang lain. Bicara ketus dan tidak peduli perasaan lawan bicara.

Saat SMA dulu, saya orangnya sombong. Ngerasa paling oke sedunia. Ngerasa semua dunia harus berputar di orbit saya. Padahal kenyataannya nggak gitu juga.

Buktinya kalau ulangan fisika pak Tata Santana, salah satu guru SMA N 3 Bandung yang saya hormati, saya selalu dapat nilai di bawah 5. Mana buktinya kalo saya itu oke banget 😞

Saat SMA dulu, saya juga suka banyak mengeluh. Semua yang dipunya bukannya disyukuri, tapi selalu dilihat dari sisi kurangnya, nggak pernah puas. Insecure.

Saat SMA dulu, saya orang yang tanpa cita-cita. Bahkan pilihan pertama dan pilihan kedua SMPB saya, dipilihkan oleh orang tua saya.

Saat SMA dulu, yang saya tahu hanya ada kesuksesan di dunia. Terjun ke masyarakat, bekerja, di posisi karir tertinggi dan banyak materi.

Saat SMA dahulu, saya paling nggak bisa masak. Plus semua kegiatan yang identik dilakukan oleh “perempuan”. Big no no waktu itu, hehe.

Plus saya pun bukan orang yang sabar. Baik sabar dengan diri sendiri, apalagi sabar dengan orang lain.

Dan walaupun begitu ya, saya sangat salut dengan sahabat-sahabat SMA saya. Dyah Chandra Kartika Sesunan. Meriza Lenanda. Puspa Sari Dewi. Satria Prihandini. Marisa Anggraini. Mereka kenal saya saat saya menjadi orang jahat di SMA dan mereka tetap membangun hubungan baik dengan saya hingga sekarang.

Kalau saya jadi mereka mah, belum tentu saya bisa tahan dengan orang seperti “saya” dengan segala sikap dan prilaku saya selama bertahun-tahun.

Big heart theyve got!

Anyway, sekarang saya pun tidak sepenuhnya menjadi orang baik, tapi dengan bangga saya bisa bilang kalau saya adalah orang yang lebih baik dibanding saya saat SMA dulu.

Dari sisi kematangan emosional, dari sisi cita-cita dan tujuan hidup, dari sisi sosial kemasyarakatan berhubungan dengan orang lain, dari cara pandang saya terhadap kesuksesan dunia. Semuanya berubah. Dan saya berusaha berubah menjadi yang lebih baik.

Dengan banyaknya hal yang terjadi di dalam kehidupan saya selama 14 tahun ini: dari saya akhirnya memilih ke perguruan tinggi swasta, kemudian memutuskan untuk sekolah lagi, ditempa dengan banyak pengalaman profesional di dunia kerja, proses mencari jodoh, akhirnya menikah, mempunyai anak dan menetapkan untuk mengurusnya sendiri, definitely YES, semua hal itu mengubah diri saya!

Saya nggak mau terus-terusan jadi orang yang sombong. Jadi orang yang nggak berempati dengan orang lain. Jadi orang yang hanya berpikir bagaimana cara memanfaatkan orang lain, instead of, bagaimana bisa bermanfaat bagi orang lain.

Karena saya yakin, karakter seseorang itu juga ditentukan oleh repetisi semua aktifitas dalam hidupnya, oleh kebiasaan. Jadi salah satu cara untuk berubah menjadi orang yang lebih baik adalah dengan mengubah kebiasaan sehari-hari yang buruk-buruk. Baik kebiasaan yang dilakukan oleh fisik, maupun kebiasaan yang dilakukan oleh hati dan pikiran.

Suka marah-marah juga merupakan hasil dari kebiasaan lho. Dan karakter itu bisa diubah dengan tekun membiasakan diri untuk tidak marah di setiap momen yang ada. Dan lama kelamaan, sikap tidak marah itu akan menjadi kebiasaan dan karakter yang baru. Trust me, ive been there and still.

Cinta dan Rangga di AADC aja juga berubah pribadinya selama 14 tahun ini, selama ratusan purnama, masak kita enggak! (336 purnama lebih tepatnya = 14 tahun x 12 bulan dalam setahun x 2 kali purnama dalam 1 bulan).

Justru, sebenarnya 14-15 tahun terakhir ini adalah momen perubahan hidup yang signifikan besar menurut saya. Proses menjadi dewasa, Yes?

Dan akan terus berproses dan akan terus berubah seiiring bertambahnya umur dan majunya waktu.

Hingga akhirnya maut menjemput. Dan semoga saya dan teman-teman semua menjadi orang yang mempunyai akhir yang baik saat ujung kehidupan kita. Aamiin.

Ah, mungkin si suami yang tadi itu hanya bermaksud mengatakan “cintamu tidak pernah berubah, istriku” , bukan orangnya yang tidak pernah berubah.

Mungkin begitu kali ya. Mungkin.
Teman-teman? 14-15 tahun yang lalu, teman-teman dalam milestone kehidupan yang mana? SMA juga? SMP? Atau sudah kuliah? Kerja?

Seberapa berubahnya teman-teman secara pribadi selama 14 tahun ini? Adakah mungkin teman-teman merasa tidak berubah? Perlukah berubah (secara pribadi) menurut teman-teman? Dan berubah menjadi seperti apakah kita sebaiknya?
Selamat berefleksi diri ya, Teman-teman 😊

Iklan

Ditulis oleh

Seorang Muslim. Seorang Ibu baru dari satu anak laki-laki (per sekarang :)) Memutuskan untuk memulai blogging sejak 2015 saat saya merasa butuh "bekerja" di samping tugas utama saya sebagai Ibu. Saya pernah bekerja di lingkungan kantoran di perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia selama 6 tahun lebih hingga tahun 2014. Pernah belajar Administrasi Bisnis juga. Dan belajar Teknik Informatika sebelumnya. Sekarang fokus "pekerjaan" saya di luar tugas utama adalah jualan dan manage blog katakanya.id ini.

3 respons untuk ‘Apakah kamu orang yang sama saat ada aadc 1 dan aadc 2?

  1. Nyaa… mau komen dari HP gagal mulu kudu di laptop dah hihihi
    Lah lu teh SMA 3 ya? Kirain dari Jakarta… Seangkatan sama Nanche gitu? #salahfokus

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s