Tips menentukan harga jual bagi creativepreneur 

Langsung saja ya. Ada 3 cara yang bisa dipilih atau bisa juga digabung-kombinasikan oleh teman-teman.

Cara #1

Harga jual = 3-4 kali harga produksi

Ini khusus untuk jualan pakaian / sandang.

Tips ini saya dapatkan dari teman yang bekerja di salah satu perusahaan yang men-design, memproduksi dan menjual pakaian wanita di banyak tempat offline maupun online ternama di Indonesia.

(Di centro departement store, metro departement store, matahari department store, sogo department store, debenhams; juga online-nya : zalora, matahari mall, berrybenka).

Dan fyi (ini bisa jadi bahan perbandingan), dalam sekali “release” perusahaan ini bisa mengeluarkan 700 pieces pakaian yang akan disebar di semua partner-nya. 

Dan dalam proses produksinya itu, mereka membeli bahan bakunya dalam banyak jumlah roll-roll-an-nya, sehingga dapat dibayangkan betapa murah harga produksi baju per piece-nya. Jangan lupa tentang prinsip economic of scale ya.

Jadi kalau teman-teman adalah creativepreneur baru yang melakukan design, memproduksi dan menjual pakaian jadi dalam tahap awal bisnis, katakanlah setiap satu kali “release” teman-teman bisa mengeluarkan 15-50 pieces baju, maka harga jual yang bisa diberikan adalah = 1-2 x harga produksi.

Itu saran ya. Semuanya kembali keputusan teman-teman sendiri. Dan saran ini didapat dari hasil membandingkan dengan perusahaan dengan 700 pieces per release tadi.


Cara #2

Harga jual disesuaikan dengan harga jual kompetitor

Ini si lesson learned dari ikut popup market.

Misalnya teman-teman jualan baju kemeja laki-laki dengan harga idr 220,000, tapi ada tenant lain menjual dengan model yang sama dengan harga idr 150,000, jika produk teman-teman tidak punya competitive advantage yang lebih baik dibandingkan dengan pesaing, maka produk teman-teman tersebut akan kalah bersaing dengan kompetitor.

That is why kita perlu cek cek harga tetangga.

Atau buat produk yang undeniably unique. Jadi kita pede dengan harga yang kita beri karena my creative product is just one of a kind, cant get it anywhere else but here.

Oia, biasanya cara #2 ini digunakan untuk bisnis dengan produk/jasa yang sudah banyak pemainnya dan tipe pembelinya adalah cost-sensitive.


Cara #3

Harga jual disesuaikan dengan berapa profit yang diinginkan

Nah, ini bisa diterapkan jika produk kita memang undeniably unique tadi.

Kita sebagai makers, creativepreneur yang membuat produk atau jasa yang mempunyai competitive advantage yang baik, otomatis menjadi pemegang supply utama dari rantai bisnis tersebut.

Dan jika demand-nya ada, maka kendali harga sepenuhnya ada di tangan teman-teman.

Dengan cara ini, formula dari harga jual tersebut adalah = biaya produksi + berapa profit yang diinginkan.

Nilai profitnya bisa kecil, agar bisa bersaing dalam pasar yang cost sensitive.

Atau nilai profitnya bisa besar, jika menjadi raja dalam rantai supply.

Nahhh, teman-teman bisa memilih salah satu cara menentukan harga di atas, atau bisa juga mengkombinasikannya.

Demikian.

Selamat berhitung ya, creatives!

Iklan

Ditulis oleh

Seorang Muslim. Seorang Ibu baru dari satu anak laki-laki (per sekarang :)) Memutuskan untuk memulai blogging sejak 2015 saat saya merasa butuh "bekerja" di samping tugas utama saya sebagai Ibu. Saya pernah bekerja di lingkungan kantoran di perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia selama 6 tahun lebih hingga tahun 2014. Pernah belajar Administrasi Bisnis juga. Dan belajar Teknik Informatika sebelumnya. Sekarang fokus "pekerjaan" saya di luar tugas utama adalah jualan dan manage blog katakanya.id ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s