Bosan jadi stay-at-home mom?

First thing, it is all my decision. Supported by suami.

Jadi semua konsekuensi yang terjadi dari keputusan itu harus ditanggung sendiri. Termasuk semua jenis drama nangis-nangis di whatsapp, ngomel-ngomel di rumah, ngajak berantem suami saat weekend, dan drama lainnya.

Efeknya jadi kurang bagus kalau saya sedang berdrama dan anak saya rewel, hemm, ujung-ujungnya malah anaknya yang jadi korban drama Ibunya.

Dan selama jadi ibu rumah tangga selama hampir 2 tahun ini, ternyata saya merasa senang sekali kalau saya pergi keluar rumah dan bertemu orang dan kemudian ngobrol

Okeeee! Kalau begitu, saya pikir, pokok masalah drama saya adalah mungkin saya itu kesepian. 

Dan karena saya pikir masalah saya adalah kesepian, akhirnya saya pun mencari solusi dengan ikut pengajian yang ada di sekitar rumah. Bertemu dengan orang-orang shalihah dan bertukar pikiran.

Kemudian hasilnya?

Yaps, setiap saya selesai mengaji, 2-3 hari kemudian terjadi perubahan di hati dan pikiran saya. Hati jadi lebih tenang, dan pikiran pun lebih positif, banyak kegiatan yang akhirnya saya lakukan dengan senang. Nggak ada drama lagi.

Namun, di luar dari 3 hari itu, saya akan terjun ke drama-drama kebosanan yang sama.

Kok kayaknya enak banget ya kalo bisa pergi ke playground itu”, padahal anaknya masih tidur. Ibunya yang butuh piknik.

Kok anaknya diajarin tepuk tangan malah nggak mau ya, malah main yang lain”, terus akhirnya terjadi pemaksaan kepada anak.

Kok mas Ridho, suamiku itu nggak bales-bales wa ku sih, padahal dia online”

Kok mas Ridho nggak mau ngasi saran tentang toko online ku sih

Kok mas Ridho nggak ngajak ngobrol tentang pekerjaan kantornya sih

Kok mas Ridho nggak berusaha mencari tahu aku sedang apa si

Dan “Kok…”, kok …” , “kok …” yang lainnya

Jadilah pikiran ini melayang-layang ke daerah negatif dan akhirnya sedih dan membuat drama sendiri.

Hemm, akhirnya kemudian saya menyadari bahwa ternyata memang pikiran itu punya pengaruh yang luar biasa akan kehidupan seseorang. 

*i know its a bit cliche, but it felt so real good when i found one common thing by myself.

Dan pikiran itu akan sangat luar biasa menghantui diri sendiri kalo tidak diisi dengan sesuatu hal (yang positif).

Dulu di waktu saya masih bekerja di perusahaan, saya jarang melakukan drama. Mungkin karena di setiap waktu yang saya punya, pikiran saya sibuk untuk memilih baju apa yang akan saya pakai ke kantor, “jalanan bakal macet apa nggak ya”, apa target action item yang harus selesai di hari ini, “apa yang akan ditanyakan Bapak itu ya saat meeting nanti”, gimana cara merapikan dan membuat dashboard activity progress di ms excel, gimana flow presentasi di ms ppt untuk topik tertentu, dan yang lainnya dan yang lainnya.

Sehingga saya tetap semangat beraktifitas. Pikiran selalu terisi dan otak selalu ter-challenged.

Nah, kemudian saya belajar dari pengalaman itu, saya pikir mungkin root cause masalah kesepian saya adalah pikiran/otak saya yang kurang ter-challenged.

Jadilah saya coba untuk membuat target-target tertentu dalam kehidupan saya sebagai ibu rumah tangga. Target penjualan online sales. Target produksi line baju yang baru. Target posting artikel di blog. Target motorik anak di umur 10 bulan. Dan lainnya dan lainnya. 

Intinya agar pikiran tetap terisi dan otak selalu ter-challenge.

Hasilnya? Target online shop tidak tercapai. Target postingan blog lewat semua. Target mengajar skill ke anak sudah dilakukan semua sehingga masih terdapat banyak waktu luang. Dan itu malah menimbulkan drama baru yang lebih hebat daripada yang sebelumnya. Ngajak berantem suami hampir tiap hari. Dan kegiatan sejenis lainnya.

Hingga akhirnya kemudian, mba-mba dari pengajian yang saya ikuti pernah bilang begini:
“Si ibu itu orangnya selalu tenang deh. Ada masalah besar kayak apapun, responnya dia selalu tenang. Mungkin karena setiap hari dan setiap detik, hidupnya dekat dengan Al Quran ya” (fyi, ibu itu guru ngaji anak-anak plus ikut grup hafalan orang dewasa)

Dan kemudian ada siaran di radio rodja yang sedang diputar saat saya sedang berkendara berbunyi seperti ini:

Ada doa ketika sedang sedih dan gelisah yang pernah diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yakni:

“Ya Allah, sungguh aku ini adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu, anak dari hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di tangan-Mu, ketentuan-Mu berlaku pada diriku, keputusan-Mu adil terhadapku, Aku memohon kepada-Mu dengan semua nama yang merupakan milik-Mu, nama yang engkau lekatkan sendiri untuk menamai diri-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang di antara hamba-Mu, atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau khususkan untuk diri-Mu dalam ilmu gaib di sisi-Mu, agar engkau menjadikan al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya dadaku, penghilang kesedihanku dan pelenyap keresahanku.

Dan kemudian saya baca postingan teman di path yang berisi hadits riwayat Muslim yang berbunyi seperti ini:

“Barangsiapa yang bangun di pagi hari dan hanya dunia yang dipikirkannya, sehingga seolah-olah ia tidak melihat hak Allah dalam dirinya, maka Allah akan menanamkan 4 macam penyakit padanya : 

1. Kebingungan yang tiada putus-putusnya,­ 

2. Kesibukan yang tidak pernah jelas akhirnya, 

3. Kebutuhan yang tidak pernah merasa terpenuhi, 

4. Khayalan yang tidak berujung wujudnya.”

Hemm, mungkin ada yang salah dengan cara saya mengisi pikiran selama ini. Mungkin isi pikiran saya masih sangat duniawi. Target penjualan online shop lah. Target launching line baju yang baru lah. Target skill motorik anak lah (walaupun untuk yang ini, saya niatkan untuk target akhirat). Target jumlah postingan blog dalam satu bulan lah

Sedangkan mengisi pikiran untuk mengingat Allah, bisa-bisa hanya dengan porsi yang sangat minimal. 

Kalau dihitung kuantitatif, hanya 3.472% dalam satu hari >> (5 kali x 10menit) per (24 jam x 60 menit).

Dan kalau memang mengingat Allah itu membuat tenang (ar Ra’du: 28), dan jikalau dalam waktu satu hari satu malam saya hanya memanfaatkan 3.5%nya dipakai untuk mengingat Allah, no wonder saya masih terus berdrama, gelisah, sedih, uring-uringan, mengajak berantem suami terus dan lain dan lainnya.

Lha wong yang menguasai hati manusia itu Allah ta ‘ala, eh saya malah mencari ketenangan hati di luar Allah.

Ok, kalau memang saya kurang mengingat Allah sehingga saya jadi bermasalah seperti ini, jadilah saya berkomitmen untuk mengisi pikiran saya terus dengan mengingat Allah, melalui peringatan dan berita gembira yang Allah turunkan pada hambanya yang mulia. Saya berkomitmen untuk terus dekat dengan Al Quran. 

Akhirnya, saya coba rangkum apa masalah dan solusi kebosanan saya:

– hipotesa pokok masalah saya bahwa pikiran saya tidak banyak terpakai 

– plus saya sambungkan dengan ayat Al Quran tentang tenangnya hati saat mengingat Allah 

– dan doa dari Rasulullah bahwa Al Quran adalah penyejuk hati dan pelenyap keresahan, 

hingga akhirnya menjadi berkomitmen untuk lebih dekat dengan Al Quran.

Jadilah salah satu target 2016 ini adalah hafal juz 30 plus khatam dalam 1 tahun. 

Masih kalah ya targetnya kalau dibandingkan dengan anak sd jaman sekarang ✌️

Ya ya ya, no wonder saya masih butek hatinya, lha wong juz 30 aja masih belum hafal dan dihayati.

Walaupun pikiran masih sedikit terarah ke duniawi. “Gimana ya kalau target jualan online nya nggak tercapai kalau tiap hari sibuk menghapal juz 30 dan ngejar tilawah beserta artinya”. 

Tapi saya tetap melanjutkan komitmen karena berniat mempunyai hati yang lebih tenang. I just jump into it!

Daaaan, memang pikiran jadi selalu sibuk dan malah menjadi lebih produktif, baik dari sisi mengejar akhirat, maupun dari sisi online shop dan blogging nya. Plus banyak ide-ide keluar di setiap harinya.

Saat menemani anak bermain pun, hati menjadi lebih senang.

Walaupun kadang masih adalah satu dua (atau tiga) hari dari seminggu ini dimana saya masih mellow dan tidak tenang hatinya. 

Mungkin di hari itu saya sedang kendor dalam mengisi pikiran saya dengan Al Quran.

Tujuan saya menulis ini adalah karena saya sekarang sedang menulis dengan hati gembira, dan semangat sekali mau sharing supaya teman-teman ibu-ibu rumah tangga yang lain bisa merasakan bahagia dan tenang yang sama :).

Pun sharing saya ini bisa valid untuk ibu-ibu yang bekerja. 

Mungkin pikirannya bisa disibukkan juga dengan Al Quran walaupun di saat-saat pekerjaan padat.

Well, saya pun masih sedang berjuang mengusahakannya sekarang. Belum selesai juga perjuangan saya. 

Mungkin benar juga ya perkataan one wisest Man ever said “the greatest battle of a mankind is the battle with our own nafs, our own self“. Shalawat untuk Rasulullah yang mulia.

So, until then, semangat mengisi pikiran dengan hal yang baik, teman-teman!

Iklan

Ditulis oleh

Seorang Muslim. Seorang Ibu baru dari satu anak laki-laki (per sekarang :)) Memutuskan untuk memulai blogging sejak 2015 saat saya merasa butuh "bekerja" di samping tugas utama saya sebagai Ibu. Saya pernah bekerja di lingkungan kantoran di perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia selama 6 tahun lebih hingga tahun 2014. Pernah belajar Administrasi Bisnis juga. Dan belajar Teknik Informatika sebelumnya. Sekarang fokus "pekerjaan" saya di luar tugas utama adalah jualan dan manage blog katakanya.id ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s