Matrix 3×3 untuk visi masa depan anak (saya) 

  

Teman-teman punya visi tentang mau jadi apa anaknya nanti nggak sih?

Mau nggak mau, apakah itu tertulis atau tidak, dan apakah itu disadari atau tidak, sepertinya setiap orang tua pasti punya visi untuk anaknya.

Mungkin visinya ada yang copy paste dari visi orang tuanya, jadi jatohnya visi masa depan anaknya adalah menjadi seperti dirinya sekarang.

Dan ada juga yang mempunyai visi masa depan yang baru untuk anaknya, terlepas dari visi orang tuanya sebelumnya.

Entah teman-teman masuk dalam tipe yang mana, tapi yang jelas visi masa depan anak itu sangat penting untuk ditetapkan. 

Layaknya punya bisnis atau dipercaya jadi eksekutif di suatu perusahaan, setiap kita pasti punya angan-angan tentang keberhasilan bisnis atau perusahaan itu.

Sama halnya dengan membesarkan anak, kita juga perlu punya angan-angan keberhasilan anak tersebut. Itulah visi.

Yang saya rasakan, visi orang tua saya terhadap saya adalah saya menjadi seorang karyawan yang sukses. Yang nantinya meningkat secara karir dan akhirnya menjadi direktur.

Saya nggak perlu jago masak. Saya diajarin untuk selalu bersikap anggun (baca: cool). Dan bahkan kadang ada pendidikan politik kantor yang ditanamkan di dalam kehidupan sehari-hari saya.

Pun ada momen-momen dimana cara duduk saya pun diajarkan seolah-olah saya adalah “orang penting”.

Mungkin karena profesi mereka pun seperti itu dan mereka adalah orang yang sukses di bidangnya, plus mereka mempunyai hidup yang nyaman secara materi, sehingga mereka mempunyai harapan yang sama terhadap anaknya.

Nggak ada yang salah dengan itu. Plus saya pun sangat berterima kasih kepada orang tua saya dengan semua pendidikan itu. Dan menurut saya, visi mereka terhadap saya sudah tercapai. Saya rasa saya sudah menjadi karyawan yang sukses. Walaupun belum menjadi direktur si ya.

Nah, kalau saya mungkin lebih complicated aka sophisticated ya dalam menyusun visi untuk anak saya.

Saya pikir perlu banget visi yang terukur untuk anak-anak saya. Visi yang bisa dikuantifikasi, kapan dan bagaimananya.

Oleh karena itu, visi anak saya itu saya tuangkan dalam matriks 3 x 3 seperti di bawah ini:
  

Ada dua sumbu yang masing-masing mempunyai tiga items

Sumbu pertama adalah sumbu karakter yang mencerminkan tiga karakter apa saja yang diperlukan untuk mencapai visi tersebut.

Dan ada sumbu “mau jadi apa” yang mencerminkan tiga cita-cita saya (dan suami) terhadap anak(-anak) kami.

Enough said untuk 3 jenis karakter di sumbu karakter ya. Kata-katanya sudah bisa mencerminkan cita-cita kami.

Anak sholeh adalah salah satu dari tiga amal orang tua yang akan terus terbawa walaupun sang orang tua sudah meninggal.

Manusia yang sehat adalah manusia yang dapat melakukan apa saja dalam hidupnya. Kesehatan adalah adalah salah satu kenikmatan dunia.

Dan tentu saja, manusia yang cerdas akan dapat mencapai tujuan dalam hidupnya. Apapun tujuannya itu.

Tentang sumbu “mau jadi apa”, sebenarnya profesi apapun yang anak(-anak) kami dalami nanti in sha Allah, kami mengharapkan mereka menjadi 3 pribadi ini.

Menjadi hamba Allah subhana wa ta ‘ala yang taat. Yang seperti orang-orang shaleh zaman Rasul dulu. Sami’na wa ato’na. Kami dengar (apa yang diucapkan Rasulullah) dan kami taat.

Plus karena peradaban umat manusia itu dimulai dari sebuah keluarga, kami berharap anak kami menjadi Ayah (atau Ibu bagi anak perempuan) yang akan membawa keluarganya terlindung dari siksa neraka. Disinilah perlunya mempunyai pandangan yang visioner. Bahwa setelah hidup di dunia ini pun, ada kehidupan lain yang perlu diperjuangkan. 

Dan perlu juga menjadi pedagang yang membawa berkah bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya. Karena sisi segi kehidupan manusia itu sangat dipengaruhi oleh orang-orang yang bisa menguasai ekonomi.

Plus ada pula target-target umurnya juga.

Umur 7 tahun untuk menjadi hamba Allah yang taat, karena di umur inilah seorang anak sudah bisa diajarkan untuk sholat. Salah satu ibadah ketaatan yang akan dihitung pertama kali, saat Hari Pembalasan nanti.

Umur 25 tahun adalah umur menikah Nabi Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, yang merupakan umur ideal bagi seorang laki-laki untuk membentuk keluarga.

Dan umur 13 tahun adalah umur saat perkembangan fisik otak manusia mencapai 100%. Dan saat puncak dari perkembangan tiga jenis otak: yakni otak bawah sadar, otak sadar dan critical factor, si penghubungnya.

The bottomline of my story is that you have to vision what kind of person your child(ren) would be.

Atau kalau tidak begitu, mereka akan menjadi seseorang yang you would not expect them to be. Apalagi kalo in a negative way. I think i would regret it someday in the future, if so.

Sooooo, until then, Semangat bervisi, dear my fellow momies!!!

Iklan

Ditulis oleh

Seorang Muslim. Seorang Ibu baru dari satu anak laki-laki (per sekarang :)) Memutuskan untuk memulai blogging sejak 2015 saat saya merasa butuh "bekerja" di samping tugas utama saya sebagai Ibu. Saya pernah bekerja di lingkungan kantoran di perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia selama 6 tahun lebih hingga tahun 2014. Pernah belajar Administrasi Bisnis juga. Dan belajar Teknik Informatika sebelumnya. Sekarang fokus "pekerjaan" saya di luar tugas utama adalah jualan dan manage blog katakanya.id ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s