How to start becoming creativepreneur Seri 2 : 5 langkah membangun produk bagi creativepreneur 

 Ini adalah seri 2 dari serial “how to start becoming creativepreneur” oleh katakanya. 

Pada setiap seri “how to start becoming creativepreneur“, saya akan menceritakan bagaimana katakanya dimulai dan berlanjut hingga sekarang. Dan berusaha untuk menjurnalkan dalam bentuk yang general sehingga bisa diaplikasikan dalam berbagai kondisi.

Pada seri 2 ini, cerita berkisar tentang bagaimana cara menentukan produk, membuat produk dan evaluasi produk bagi creativepreneur. Intinya adalah tentang creative product development

Bagi saya, ada 5 langkah besar dalam creative product development:

1. Tentukan produk dan keunikan produk tersebut

2. Tentukan siapa segmen pasar dari produk kreatif kita

3. Buat persona

4. Buat mvp – minimum viable product

5. Build-measure-learn

Langkah #1 – menentukan produk kreatif apa yang akan ditawarkan ke pasar.

Saya berawal dari kesukaan saya dengan vest rajut buatan Ibu saya. Sehingga kemudian saya memantapkan dalam hati bahwa saya mau menawarkan vest-vest rajut dan baju-baju rajut hasil produksi Ibu saya ke pasar

Untuk teman-teman hobbiest dan makers yang memang konstan membuat produk sesuai hobi, hal menentukan produk adalah hal yang mudah. Gampang saja, apa yang selalu kita produksi (biasanya si hand made ya) akan menjadi produk kreatif kita.

Tetapi untuk teman-teman yang masih belum menentukan produk kreatifnya apa, saran saya adalah:

A. Coba lihat di sekeliling teman-teman. Apa yang ada di lingkungan sehari-hari teman-teman, yang bisa dikuantifikasi?

B. Jika masih belum dapat, coba bantu dengan menulis daftar hobi, kegiatan, kesukaan yang sehari-hari dilakukan

C. Atau jika masih belum bisa menentukan apa hobi dan kesukaan kita, coba kategorikan jenis kegiatan yang selama ini kita posting di path, di instagram atau di twiter (atau di facebook juga)

D. Kemudian kembangkan ide produk dari salah satu kategori/hobi/kegiatan/kesukaan tadi

Contohnya ini, salah satu teman saya yang bernama berinisial MWDari 😄, beliau senior saya sebenarnya (senior di kantor jaman dahulu saya berkantor). Kesehariannya menjadi manager di perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia tidak menghalangi keinginannya untuk menjadi creativepreneur. Namun mba MW ini masih bingung harus mulai dari mana.

Kita bisa coba lihat ke sekeliling mba MW. Apa yang ada di kehidupan sehari-hari mba MW, yang mba MW senangi? atau apa yang ada di kehidupan sehari-hari mba MW, yang mba MW kontinu melakukan / membuatnya?

Nah, sebagai teman (path) mba MW yang baik, saya memperhatikan bahwa kriteria postingan path mba MW adalah 3 hal ini:

1. Quotes Al Quran dan Hadist Islam

2. Report aktifitas olahraga, lari, body combat (gym), dll 

3. Dan buku-buku bisnis / enterpreneurship

Saya pikir, mba MW bisa sekali mengkuantifikasi aktifitas olahraganya dan menjadikannya lahan untuk creativepreneurship.
Mba MW bisa punya produk seperti berikut:

– handuk kecil / handuk gym (yang biasa dibawa orang yang sedang lari atau sedang ikut kelas gym untuk menyeka keringat) yang bertuliskan kalimat-kalimat penyemangat

– sisi kreatifnya adalah susunan kalimat-kalimat semangat yang dibordir di handuk tersebut. Mba MW bisa ambil dari quote-quote orang lain atau bisa membuat quote sendiri. Quote mba MW sendiri bahkan bisa dipatenkan.

– diharapkan, setiap ada orang yang lari di threadmill, atau lari di lapangan atau sedang ikut kelas body combat (kesukaan mba MW😁) dan mengambil istirahat sebentar untuk menyeka keringatnya, mereka dapat melihat tulisan semangat di handuknya dan kembali berolah raga dengan semangat

– produk itu bisa ditawarkan menjadi alternatif handuk yang dipinjamkan gratis di tempat gym

– dan mungkin kira-kira beginilah bentuk handuknya:

 
(Gambar di atas hanya rekayasa komputer penulis 😁)

Atau untuk contoh lain, misalnya kalau ada teman-teman yang hobi menulis atau blogging, blogger juga merupakan salah satu bidang creativepreneur. Yang perlu dikembangkan adalah content dari blog teman-teman tersebut.

Atau teman-teman ada yang suka memasak makanan mpasi bayinya sendiri? “MPASI in a jar” juga bisa jadi produk yang menarik untuk dikembangkan lho. 

Jangan lupa bahwa merek terkenal sekaliber Heinz juga menjual mpasi in a jar lho.

Mencari keunikan produk kreatif kita
Cara mencari sisi unik dari sebuah produk adalah dengan menuliskan daftar kompetitor di lahan sejenis dan melihat apa yang spesial dari produk kita yang bisa membuat pasar lebih tertarik memilih produk kita, dibandingkan dengan yang produk yang lain itu.

Untuk katakanya, salah satu keunikannya adalah bahwa katakanya merupakan tempatnya ready stock handmade wearable crochet. Dimana kompetitor lain, banyak yang memilih metode made by order.

Atau untuk contoh “power towel”nya mba MW, sisi uniknya adalah tulisan semangat yang dibordir di handuk tersebut. Terlebih kalau tulisan itu adalah quote hasil kreatif mba MW sendiri. Saya kira belum ada produk serupa di pasaran. 

Lain halnya untuk blogging, sisi unik yang bisa diambil dari sebuah blog adalah konsep content dari blog tersebut. Contohnya saja content dari blog www.livingloving.net yang adalah tentang inspirational modern living. Ditambah realisasi content-nya yang menarik dan konsisten, livingloving.net ini menurut saya cukup unik dan menarik untuk diikuti.

Sedangkan sisi unik dari “mpasi in a jar” bisa jadi adalah ready stock dan siap kirim dalam waktu 1 jam dari order misalnya. Hal ini akan menjadi sisi unik dan menarik bagi tipe customer yang merupakan working mommy.


Langkah #2 – menentukan segmen pasar

Menentukan segmen pasar setelah produk selesai dikonsep, adalah hal yang relatif mudah. Semudah membayangkan apa karakter dan demografi orang yang akan beli produk kita. Dan seharusnya, kita sendiri juga termasuk dalam range karakter dan demografi tersebut ya, karena kita adalah customer dari produk kita sendiri, bukan? Jadi menentukan segmen pasar produk kreatif kita akan semudah mendefinisikan refleksi diri kita di calon customer kita.

Misalnya, produk katakanya – untuk perempuan usia antara 15 hingga 45 tahun.

Produk “power towel” mba MW – segmennya untuk gym freak.

Blog livingloving.net – untuk perempuan 20 – 40 tahun.

Produk “mpasi in a jar” – segmen pasar untuk active mommies yang mempunyai bayi berumur 6 – 24 bulan.


Langkah ke-3 : buat seorang persona

Yes, persona adalah figur fiktif yang kita buat sendiri untuk merepresentasikan pengguna dari produk kita. 

Gunanya membuat sebuah figur persona adalah untuk membuat kita mempunyai panduan do dan dont setiap kita membuat design dan menciptakan produk. Dan jangan lupa, figur persona yang kita buat harus berada di dalam range segmen pasar yang sudah ditentukan tadi.

Figur persona yang kita buat harus detail dari sisi kepribadian, kesukaan atas sesuatu, seleranya dia, dan aktifitas harian juga. Jadi kita “kenal” betul dengan figur persona itu.

Saran saya si, lebih baik pilih figur persona yang ada di sekitar kita saja. Atau public figure yang sudah kita riset profilnya.

Misalnya, persona untuk katakanya adalah seorang teman saya bernama Anisa Jumiati Rahmah, seorang pegawai di perusahaan telekomunikasi besar Indonesia dengan jadwal harian yang sibuk dan menuntut gerak yang aktif. Beliau menggunakan hijab dalam pakaian hariannya.
Nah, dengan mengetahui bahwa mba Anisa Rahmah ini menggunakan jilbab di kesehariannya, otomatis produk katakanya harus sesuai dengan kepribadian pengguna jilbab.  

Dan juga harus disesuaikan dengan kebutuhan gerak aktifnya Anisa, misalnya bahannya menyerap keringat. 

Lebih dalam lagi, jika Anisa lebih menyukai warna-warna pastel, maka warna-warna yang digunakan oleh katakanya tidak melenceng dari patokan warna pastel tersebut.

Disitulah letak kegunaan persona. Menentukan dos and donts dari design kita. Menentukan batas design produk kita. 

Dan disitulah terdapat penjelasan dari pertanyaan mengapa karakter persona harus detail. Jawabannya adalah agar ada lebih banyak control untuk dos and donts nya.
Atau untuk produk “power towel”nya mba MW, figur persona yang dipilih bisa saja teman gym mba MW yang adalah runner perempuan, yang mba MW kenal dekat.
Atau untuk blog livingloving.net, figur persona yang dipilih adalah refleksi Miranti dan Nike Prima sendiri, dua owner yang menulis blog tersebut.
Sebenarnya mungkin saja, figur persona adalah figur owner dari brand tersebut. Hal itu dimungkinkan bila di balik produk tersebut terdapat lebih dari satu owner, supaya bisa saling mengevaluasi design produknya. 

Namun jika hanya satu orang yang melakukan design produk kreatif dan dia menjadi brand persona, tidak ada proses evaluasi dan feedback disitu. Hal itu tidak disarankan. Yang ditakutkan adalah “selera” design kita tidak terlalu sell-able karena berfokus hanya pada diri kita sendiri, tidak menyesuaikan pasar.
Nah, untuk contoh “mpasi in a jar”, figur persona-nya bisa mengambil publik figur dan designer, Jenahara yang baru saja melahirkan beberapa bulan yang lalu.

Menentukan persona sebenarnya juga merupakan refleksi dari potret (produk) kita di figur persona tersebut.
Langkah ke-4 : membuat MVP

MVP, Minimum Viable Product, adalah konsep dari buku Lean Startup karya Eric Ries.

  
(Its a good book, i like)

Metode nya adalah kita BUAT CEPAT produk kreatif yang kita kira akan diterima di pasar (hipotesis). Buat dalam jumlah sedikit terlebih dahulu. Dan tetap perlu dilakukan riset pasar sebelum memproduksinya, quick market research, namun dont over-research, just produce it. Kemudian luncurkanlah produk tersebut ke pasar.

Tulisan BUAT CEPAT produk kita di atas memang sengaja dibuat menggunakan capslock aktif 😉, karena disitulah inti dari MVP. Kita tidak melakukan banyak riset dengan waktu lama sebelum memproduksi produk kreatif kita. 

Pilih produk yang kita suka dan buat riset kecil apa yang disuka pasar (bisa bertanya langsung ke figur persona kita, atau contek model dari majalah atau bisa juga lihat koleksi designer lain yang sudah punya banyak peminat), kemudian setelah itu gabungkan kesukaan dan hasil riset kita dan mulai produksi.

Saat produk selesai dibuat, majulah ke langkah #5.
Langkah ke #5 : build/measure/learn



Langkah ke #5 ini juga merupakan konsep lean start up karya Eric Ries. Terdiri dari 3 langkah dan harus terus menerus dilakukan berulang dengan sekuen sepanjang kita membuat produk: 

build-measure-learn.
Yang dilakukan dalam build adalah memproduksi mvp dan meluncurkan ke pasar, layaknya langkah #4.
Kemudian tentukan ukuran-ukuran yang menentukan keberhasilan produk kita. Ukur hasil pencapaiannya selama beberapa waktu tertentu. Measure.
Dan kemudian learn dari hasil measure tersebut untuk menjadi dasar membuat produk selanjutnya. 

Dan begitu seterusnya mengikuti iterasi build/measure/learn.

Sebagai contohnya, pengalaman katakanya di tahun 2014 yang lalu.

Build: Mei 2014 ikut bazar hanya dengan bermodal 2 vest rajut, 3 baju rajut, 1 baju rajut anak dan tulisan “made by order”. (Vest dan baju rajut yang dibawa itupun tidak bisa dijual karena Ibu saya ingin menggunakan sendiri vest dan baju rajut buatannya 😔)

  

Measure
. Setelah bazar selesai kemudian kami melakukan evaluasi dengan hasil sebagai berikut: 

– ternyata vest rajut dan baju rajut punya peminat yang lumayan >> ada sekitar 20 order dalam waktu bazar selama 4 hari itu. Untuk skala kami saat itu, 20 order ini sudah sangat banyak sekali.

– kemudian ada beberapa model vest dan baju rajut yang “popular demand”. Ada lebih dari 3 order untuk satu jenis vest rajut dan baju rajut tertentu

– dan ada request 10 baju rajut anak

Hasil Learn ini kemudian menjadi masukan untuk Build kembali, pengembangan produk selanjutnya, dan begitu seterusnya. Sehingga pada akhirnya kita terus belajar dan berkembang.

Untuk contoh “power towel”nya mba MW, mungkin bisa Build 3 jenis handuk dengan tulisan berbeda dahulu, kemudian tes pasar ke teman-teman gym-nya.
Untuk contoh blog livingloving.net. Mereka menulis di blog mereka dengan beberapa tema yang mereka sepakati, kemudian dilihat trafik pengunjung di setiap tema untuk proses measure dan learn.

Sedangkan untuk “mpasi in a jar”, mungkin bisa produksi mpasi dengan beberapa jenis sayur dan buah yang berbeda beserta kombinasinya dan kemudian dilihat mana yang angka penjualannya lebih banyak.

Yeps, menarik memang membahas tentang being creative with structural thoughts ini. Setidaknya inilah yang saya rasakan selama membangun produk di katakanya. Harus kreatif di poin langkah ke #1, #2, #3 – menentukan produk, menentukan segmen, dan menentukan persona. 

Tapi tetap harus berpikir secara terstruktur di poin #4 dan #5, di bagian mvp dan iterasi build-measure-learn.

Di sisi lain, saya juga menyimpulkan bahwa inti dari creative product development adalah mengenal diri sendiri terlebih dahulu (sebagai makers dan the creative director dari produk kita) – ini direpresentasikan dengan langkah #1,#2,#3,#4 di atas (menentukan produk, segmen, persona, dan mvp) dan kemudian baru mengenal pasar dengan melakukan proses iterasi antara build, measure dan learn
Saya harap cerita saya ini bisa bermanfaat yaa.
Selamat berkreasi, creative mommy, creative people!

Cheers,

-kanya-

Iklan

Ditulis oleh

Seorang Muslim. Seorang Ibu baru dari satu anak laki-laki (per sekarang :)) Memutuskan untuk memulai blogging sejak 2015 saat saya merasa butuh "bekerja" di samping tugas utama saya sebagai Ibu. Saya pernah bekerja di lingkungan kantoran di perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia selama 6 tahun lebih hingga tahun 2014. Pernah belajar Administrasi Bisnis juga. Dan belajar Teknik Informatika sebelumnya. Sekarang fokus "pekerjaan" saya di luar tugas utama adalah jualan dan manage blog katakanya.id ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s