How-to-start-becoming-creativepreneur serie

 Holla,

Di media blog ini, saya mau sharing tentang perjalanan saya menjadi creativepreneur dengan membangun dan mengembangkan katakanya.

  

katakanya adalah brand name untuk produk wearable crochet for ladies and littles. Mostly adalah #bajurajut dan #vestRajut kesukaan. Tapi kadang kita suka juga dengan aksesoris seperti gelang, kalung, topi pantai lebar, collar, pita and all nice things made with crochet technique.

Nah, sharing dan cerita tentang membangun bisnis dan me act as a creativepreneur akan dituangkan dalam serial “how to becoming creativepreneur” di blog ini. Inti cerita generalnya adalah tentang bagaimana cara memulai bisnis kreatif kita. 

Bahasannya bisa seputar memilih produk yang akan ditawarkan, economic feasibility analysis for our creative biz, branding development for creative biz, sampai jadwal harian saya sebagai creativepreneur mommy: ya creativepreneur, ya full time mommy juga. Walaupun jurnal ini akan tetap dibuat general, jadi siapapun baik itu working mommy, working daddy atau teenager pun bisa juga mengkonsumsinya.

Kenapa saya menjurnalkan perjalanan katakanya dan menuliskannya secara general sehingga dapat diterapkan di berbagai bidang bisnis kreatif? Karena saya pikir di Indonesia belum ada ulasan mendalam tentang creativepreneurship. Saat saya memulai katakanya dan mencari referensi di google pun, tidak ada halaman yang secara spesifik membahasnya. Jadi saya pikir saya akan coba memulai sharing apa yang saya lakukan dengan katakanya.

Untuk memulai cerita tentang creativepreneurship, saya coba flashback saat awal saya memulai katakanya di Mei 2014.

Hubungan saya dan katakanya adalah hubungan bisnis dahulu kemudian baru hobi. Sedikit berbeda dengan tipe-tipe creativepreneur yang lain, yang memulai bisnis kreatif nya dari hobi. Jadi hobi dulu baru bisnis, menjadi seorang maker dahulu kemudian membangun bisnis.

Sehingga saya mengambil kesimpulan bahwa ada 2 tipe creativepreneur, yaitu:

1. Dia seorang maker, sudah punya produk kreatif terlebih dahulu, baru kemudian memulai bisnis. 

2. Atau dia punya ide bisnis kreatif dahulu dan kemudian membangun idenya. Dan menggeluti bidang/hobi tersebut setelahnya.

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, saya adalah tipe yang kedua. Saya sangat suka dan jatuh cinta dengan semua vest rajut Ibu saya. Dan kemudian saya mulai dengan ide bisnis vest rajut. Dari kesukaan, kemudian ide bisnis, dan akhirnya sekarang saya menggeluti banget bagaimana cara merajut.

Kalau dahulu sebelumnya, saya mana tahu apa bedanya knit(ting) dan crochet(ing). Karena saya sebagai pengguna saja, yang saya tahu hanya kalau baju rajut itu dibuat handmade (walau kadang ada yg dibuat pakai mesin juga).

Dulu, saya juga kurang peduli bagaimana cara Ibu saya merajut (crocheting / haken bahasa belandanya). Yang saya peduli hanya pake vest-vest rajut buatannya.

Dan akhirnya sekarang, alhamdulillah, saya jadi tahu kalau knitting itu merajut dengan dua stik sedangkan crocheting hanya dengan satu stik. Hehe.

  

(Gambar dari planetjune.com)

Kalau knitting itu layaknya membuat fabric, sedangkan crocheting itu bisa main pola. That’s why, kadang hasil #bajurajut crocheting bisa jarang-jarang polanya, atau bisa rengket-rengket juga.

Yeps, dan bahkan saya sudah berhasil membuat vest perdana saya dengan crocheting. Alhamdulillah. 😁

Ada banyak hal si yang membuat saya menjadi orang yang lebih “baik” dengan terjun di bisnis kreatif dengan katakanya ini. Setiap hari, setiap minggu, setiap bulan dan seterusnya, saya terus dituntut untuk menjadi kreatif, create more terus.

Setiap melihat decor ruangan di suatu resto atau cafe, jadi ikut mikir tentang properti apa yang bisa dipakai untuk keperluan foto produk, bahkan untuk keperluan decor booth saat ikut bazar.

Dengan terjun di bisnis kreatif ini, saya juga dituntut untuk menciptakan design baju yang selalu baru setiap periode waktunya. Bermain di berbagai jenis benang, bermain dengan banyak macam warna, juga dengan banyak pola rajut (crochet).

Itulah yang menurut saya membedakan antara creativepreneur dan entrepreneur. Kalau creativepreneur, bukan hanya menjalankan bisnisnya saja tapi juga create all new things (design) di setiap produknya. Sedangkan kalau entrepreneur, mereka menjalankan bisnisnya dengan core produk yang relatif sama dan kalaupun berubah tidak akan create new product from scratch.

IMG_6965

Contoh lahan creativepreneurship adalah clothing design, jewel design, bags design, craft biz, home made cake production, blogging, landscape design, architect dan semua pekerjaan yang menuntut create new product everyday.

Sedangkan kalau entrepreneurship tidak melulu mengharuskan create new product from scratch.

Yaps, banyak sekali sebenarnya yang bisa dibahas mengenai creativepreneurship ini, sekian dulu pembuka seri “how to start becoming creativepreneur”, semoga berguna dan menginspirasi.

See you soon and lets create more, creative people!

Cheers,

-kanya-

Iklan

Ditulis oleh

Seorang Muslim. Seorang Ibu baru dari satu anak laki-laki (per sekarang :)) Memutuskan untuk memulai blogging sejak 2015 saat saya merasa butuh "bekerja" di samping tugas utama saya sebagai Ibu. Saya pernah bekerja di lingkungan kantoran di perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia selama 6 tahun lebih hingga tahun 2014. Pernah belajar Administrasi Bisnis juga. Dan belajar Teknik Informatika sebelumnya. Sekarang fokus "pekerjaan" saya di luar tugas utama adalah jualan dan manage blog katakanya.id ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s